Selasa, 22 November 2011

Gembala di Tepi Gilimanuk
Ilalang yang Berjelampah di Tanah Berdebu  
SUATU sore, di bawah teduh pohon ketapang tua, aku tengah lengah menikmati desir angin yang gersang. Aku berhenti sejenak karena langkahku mulai lelah mengikuti lekuk liukan jalanan ini. Berperang dengan peluh, kucoba berteduh dari udara panas langit biru. Kupandangi barisan bukit di barat, aku jadi mengecil tanpa arti. Tertelan dalam deret pangsanya yang terus menganga. Bukit apakah itu, yang selalu setia menyangga tiap insan yang melewati penyeberangan ini? Jika aku terus berdiri di sini bukit itu akan semakin menindasku. Kapan pula aku akan sampai di natah pekaranganku, tanah kelahiranku? Apa daya, jalanku menyempit, keringat semakin asin mengaliri celah pori-pori tubuhku. Aku harus diam sejenak. Menikmati telanjang langit bumi makepung.

Pandanganku kini karam pada pengembala kecil dekat pohon asam. Matanya tajam mengawasi tiga ekor sapi kurus merumput pada ladang gersang. Di ujung pecut itu, si penggala masih punya harapan. Paling tidak sapimu tidak mati sia-sia hari ini. Tak ada seruling di tangannya yang lebam karena napas tak lagi mendepus bersuara. Tak ada anyaman topi daun kelapa di atas kepalamu karena nyiur yang menjulang di ladangmu tak lagi subur berdaun. Tapi kau tak mengeluh bermandikan matahari. Kudekati bocah itu untuk mengusir bisuku memandang bukit. Penggembala kecil menyambut kehadiranku dengan senyum yang khas tanpa banyak ambisi dan basa basi. Bocah yang terlalu polos menurutku untuk kuajak berbagi.

SI PENGGEMBALA mulai bertanya, lelahkah jalanmu? Ya, jalanku memang lelah dan kadang membosankan. Bahkan di tanah ini aku telah kehilangan arah mata angin, mana utara mana selatan? Tapi leluhurku pernah mengajarkan jika kau tersesat tengoklah gunung dan segara di dekatmu kelak kau akan tahu arah. Kadang aku tak sadar kalau percakapan segara-gunung telah banyak membebaskanku dari ikatan sesat dunia. Bukankah kini kita tengah berbahasa: asam di gunung garam di laut bertemu dalam belanga? Belanga mana yang kau maksud? Kita memang berjodoh bertemu dalam belangan bumi yang besar, di sini tentunya di tepi yang tak pernah sepi. Bercakap-cakap tentang musim tuarang yang sebentar lagi akan datang. Bercerita tentang kejayaan hutan jati yang mengakari siap jengkal tanahmu.

Di tepi ini, warna rumput selalu berubah-ubah, sekehendak musim. Dermaga ini adalah jalurku tiap senja ketika aku pulang ke belahan bumi barat. Bila musim basah tiba ilalang di atas ladangmu akan menguyupkan kuncup-kuncup mahkotanya. Ketika itu, kupelankan jalanku untuk menikmati hijau tubuh nengan-mu. Penggembala riang gembira mendapati sapi-sapinya gemuk merumput di ladang yang tak lagi tandus. Sembari menangkap belalang hijau yang lagi bercumbu menjilati embun di tiap ujung dan belu. Bernapaskan asin segara rupek ini.

Namun, jika musim kerontang datang menerjang, rumput di atas tegalmu akan meradang gersang. Bukan pemandangan inah bagiku, tapi mesti dijalani karena musim selalu adil mengganti tiap jubah yang dikehendaki. Nengan di tepi Gilimanuk pun tandus dengan bangkai ilalang yang berjelampah di atas tanah berdebu. Angin kering berhembus menerbangkan biji-biji mahkota kembang mati bersemi. Sungai pun kering tak mampu memberi tadah hujan pada hamparan sawahmu. Hari telah senja, kutinggalkan bocah itu seorang diri. Langkahku mulai bertenaga, menanggalkan keringat yang berkesudahan. Meninggalkan gelisah di mata bocah itu, takut besok pagi tak ada lagi cerita rumput yang tersisa karena ilalang di tanah ini telah habis terbakar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar