| Jejak Jejak Mpu di Silayukti |
| TELUK Padang yang kukenal adalah tanah dengan bukit yang tandus berbatu. Tapi bagi orang-orang Padang tanah ini masih layak untuk digarap menjadi kebun atau ladang. Ada banyak kemungkinan engkau datang pagi untuk ke teluk berpasir putih ini. Mengantarkan orang-orang terdekat untuk berpisah di dermaga itu, menuju tanah Sasak lewat buih Lembar atau hendak ke tanah berkapur, lewat tepi Buyuk Nusa Penida. Entah berapa tetes mata jatuh membasahi tanah pelabuhan ini, menangisi perpisahan yang disepakati namun enggan diniati. Bagi yang tabah tentu melepasnya dengan senyum dan lambaian tangan yang terasa berat. Begitulah, selalu ada rasa di dermaga ini, menghiasi anjungannya yang berkarat. Kemungkinan lain, engkau datang ke pesisir ini untuk matirtayatra. Melaksanakan swadarmaning umat untuk selalu pedek tangkil ke tanah yang mesti diingat dan dijunjung. Di sinilah salah satu tanah yang engkau tuju, menapaki jalan Pura Dang Kahyangan. Kurang lebih, telung atak depa ke arah utara dari pelabuhan itu, engkau akan mendapati kemegahan Pura Silayukti. Orang-orang di dusunku menyebutnya Selukti. Pura yang selalu padat sesak oleh desahan pemedek ketika aroma garam Buda Kliwon di wuku Pahang telah tiba. Kala itu, adalah waktu bagi pujawali puramu. Di tepi ini, kamboja putih itu selalu berbunga. Ketika panca kembang mahkotanya jatuh selalu disulam oleh duri-duri kaktus yang menumbuhi bukit kecil ini. Di atas ketinggian ini, mataku bebas lepas memandang ketenangan lintasan baruna Padangbai bagi kapal-kapal yang rela menunggu giliran untuk melumat bibir dermaga. Menyaksikan walet dan burung gereja menerbangkan ranting daun kering untuk bisa bersarang di tebing-tebing pantai berkarang. Semakin memaknai bahwa di tanah ini selalu ada ragam kehidupan. Menjangan Sluwang di pura itu, mengingatkanku pada sejarah perjalanan sang Mpu suci untuk menebar benih-benih ajaran agama. Di pesisir inilah Mpu Kuturan merapatkan diri dengan wahana seekor kijang suci. Kini, di manakah menjangan itu berada? Adakah di setiap merajan orang-orang yang menghormati jasa-jasa beliau sebagai bagian dari Panca Tirtha. Mpu yang juga disebut Rajakertha telah mengajarkan banyak hal tentang Silakrama, falsafah dunia besar dan dunia kecil, Karmapala, Tri Hita Karana, dan terutama dalam mendirikan kahyangan-kahyangan dan palinggih untuk para dewata. Meru, yang selalu kuagung-agungkan adalah lahir dari konsep kecerdasan beliau. Kala itu, diperkirakan 1001 masehi, Mpu Kuturan tiba di Bali. Dan di Girah, beliau pernah menjadi raja. Meninggalkan istri yang tidak sepaham, berseberangan dengan ajaran Mpu. Istrinya menganut ilmu hitam menjalankan teluh terangjana. Setelah ditinggal, maka menjandalah sang istri dengan julukan Walu atau Rangda Natheng Girah, Janda Raja Girah. Si anak, Dyah Ratna Manggali pun ditinggalkan di Girah, sang Mpu tidak berkenan mengajaknya turut serta pergi ke tanah dewata. Adalah menjadi tugas, Mpu Baradah adik Mpu Kuturan untuk menghilangkan kegelapan Rangdeng Girah di tanah Jawa. Inilah menjadi cikal bakal cerita Calonarang yang mengagumkan. Di Bali, Mpu Kuturan menjadi brahmarsi menjalani swala brahmacari. Menjabat sebagai Senapati Kuturan pada masa pemerintahan Dharmodayana hingga Anak Wungsu. Kala itu, Bali konon tengah berkemelut dalam perbedaan kepercayaan menganut agama. Jadilah sang Mpu ketua majelis Pakiran-kiran Ijro Makabehan yang berhasil menyatukan perbedaan-perbedaan itu. Dalam pesamuan agung di Bataanyar itu lahirlah faham Tri Murti, Desa Pakraman dengan konsep Kahyangan Tiga-nya, Kemulan atau Rong Tiga di tiap merajan, dan pemberian nama agama Siwa-Budha. Masa itu, siapa pun yang datang ke Silayukti untuk belajar agama, maka Mpu Kuturan akan melayaninya dengan tulus ikhlas. Karena di tepi ini, Sila adalah dasar atau tingkah dan yukti itu benar. Mestinya selalu menjalankan tingkah laku dengan dasar kebenaran. Betapa sederhananya ajaran itu tapi jika diresapi akan bermakna dalam. Sayang kini kita kadang melupakan dan mengingkarinya. Semoga aku yang pernah berdoa di tanah ini selalu ingat dan bisa menuntun diri sendiri agar selalu berada pada garis yukti yang telah ditetapkan. Di sisi lain, ketika berada di Teluk ini aku juga teringat pada sejarah tentang percakapan Dalem Baturenggong, raja Bali waktu itu, dengan Dang Hyang Nirartha, yang bergelar Pedanda Sakti Wawu Rauh. Diceritakan Ki Gusti Penyarikan Dawuh Bale Agung dengan menunggangi kuda putih, diutus untuk menjemput sang Mpu di Desa Mas agar mau datang ke Gelgel Menjadi guru agama Dalem Baturenggong. Namun sayang karena Ki Gusti Penyarikan datang terlambat sehari, sesampainya di Gelgel, sang raja dikabarkan telah pergi berburu ke Teluk Padang pagi-pagi buta. Siang hari, setibanya di Padangbai, Ki Gusti penyarikan mengantarkan Mpu Dwijendra ke pasanggrahan Sri Aji Bali itu. Betapa murkanya Dalem Baturenggong mendapati utusannya datang terlambat. Berkat kebijaksanaan Dhangguru, dijelaskanlah bahwa keterlambatan itu disebabkan oleh keinginan Ki Gusti Penyarikan tentang ilmu ketuhanan dan ingin madiksa menjadi seorang bhagawan. Di parhyangan istana Mpu Kuturan, Dang Hyang Dwijendra dijamu dengan makanan dan minuman. Mulailah sang pendeta menawari sang raja untuk melakukan pembersihan diri dengan jalan madiksa. Namun, Dalem Baturenggong belum ada niat untuk mabersih karena telah merasa didahului oleh bawahannya, Ki Gusti Penyarikan. Baginya, tidak mau menjadi surudan (sisa-sisa) dari Pangeran Dawuh. Kala itu, sang Mpu menjelaskan bahwa janganlah kecewa karena di-diksa belakangan. Masalah dharma bukanlah menyangkut soal carikan, surudan, atau sisa-sisa, agama adalah soal ketuhanan yang suci. Meskipun begitu bijaksananya Mpu Dwijendra menjelaskan Dalem Baturenggong tetap tidak mau madiksa. Beralihlah percakapan raja dan Mpu itu pada masalah yang lain, tentang perburuan di hutan dan laut Padang. Meskipun telah berburu pagi-pagi buta tak seekor pun binatang yang bisa ditangkap. Dang Hyang Nirartha yang kala itu prihatin memerintahkan kembali agar rakyat Dalem Baturenggong kembali menjala ke laut dan berburu ke semak belukar. Sang pendeta kemudian berdiri di halaman parhyangan memandang ke samudra memanggil ikan dan memandang ke hutan memanggil binatang. Di sinilah ke-sidi-an sang Mpu terbukti kembali, seketika banyak ikan dan binatang yang bisa ditangkap. Malam harinya, percakapan tentang agama kembali terjadi antara Raja dan sang Mpu. Namun, tentang mabersih yang ditawarkan oleh Dhangguru, Dalem Baturenggong masih memikirkan dan menangguhkannya. Dan esok pagi, mereka kembali ke istana Gelgel. Demikianlah, percakapan spiritual di Teluk Padang itu mengingatkan aku pada keraguan hati Sang Arjuna ketika berperang di Kuruksetra. Beruntung punya Sri Krisna yang dengan bijaksana menuntun hati sang ksatria itu. Hanya saja substansi dialognya berbeda namun sama-sama ada keraguan di dalamnya. Meskipun pada akhirnya Dalem Baturenggong sudi 'dibersihkan' oleh Mpu Dwijendra setelah mendapat sabda Bhatara Mahadewa dari Gunung Agung. Bersyukurlah aku mengenal sejarah itu, mengenal jejak Mpu di tepi Silayukti. Teluk Padang selalu mengajariku untuk tidak ragu-ragu mengenal sejarah leluhur dan Silayukti mengingatkanku untuk selalu belajar mendalami ajaran agama, dengan tingkah laku yang disasarkan pada kebenaran sejati. |
Selasa, 22 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar